Thursday, November 22, 2012

Dilema pasar tradisional : Terdesak Toko Modern

KLATEN (KRjogja.com)- Sebagian masyarakat Klaten mengeluhkan menjamurnya toko-toko modern berjaringan yang kini beroperasional hingga ke desa. Terkait hal itu, Pemkab Klaten diharapkan lebih selektif dalam memberikan perizinan.

Keluhan masyarakat itu terserap pada masa reses DPRD Klaten. Dari sejumlah fraksi mendapatkan keluhan yang sama, yakni menjamurnya toko-toko modern berjaringan, sehingga dikawatirkan mematikan pedagang  tradisional.

"Jika keberadaan toko modern berjaringan tidak selektif pemberian ijinya, kami khawatir banyak pedagang kecil dan pedagang tradisional gulung tikar," kata Wiyanto anggota DPRD Klaten.

Sementara itu pedagang 39 pedagang pasar Legi Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggunng,  Rabu (21/11) studi banding  terkait rencana pembangunan pasar tersebut. Studi banding melihat beberapa  pasar tradisional  di Jakarta.

Kepala bidang Pasar Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan UMKM Temanggung, Prasojo mengemukakan, studi banding itu terdiri dari pedagang 26 orang, tokoh masyarakat, camat Parakan dan Tim Dinas Disperindagkop. "Mereka akan mengunjungi pasar baru Koja (Jakarta Utara) dan pasar baru Majestik (Jakarta Selatan)," jelas prasojo di kantornya.


adakahh win win solution agar pedagang tradisional mampu bersaing?

pengelolaan pasar tradisional sebenarnya perlu koordinasi lebih, semisal membuat semacam paguyuban antar pasar, kecocokan harga/harga pasar lebih miring dari toko berjaringan dan kebersihan pasar adalah efek terpenting dari persaingan itu sendiri, saya kira jika pemda mau membuatkan semacam "pasar" khusus pasar tradisional semacam mall tradisional akan lebih meramaikan persaingan. bukan begitu?

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda adalah hadiah terindah bagi saya